23 June 2011

...qAnaaH dan bersyuKur...

mari sama-sama kita ambil pelajaran daripada kisah Nabi Sulaiman a.s. dan Ratu Balqis...insyaAllah...
----------------------------------------------------------------------
Nabi Sulaiman a.s. bercita-cita ingin mendirikan sebuah rumah suci di Syam, untuk dapat dipergunakan sebagai tempat ibadat menyembah Allah dan juga sebagai tanda pengorbanan daripada dirinya sendiri kepada Allah. Tiang-tiang yang tinggi dan besar lalu didirikan, dinding-dinding tembok yang besar dan agung pun berdiri dan tidak lama kemudian, Rumah Suci (Baitul Maqdis), yang dicita-citakan Nabi Sulaiman a.s. itupun jadi kenyataanlah. Yang sampai sekarang masih ada dan tetap ada dan masih tetap bernama Rumah Suci (Baitul Maqdis atau Jerusalem).

Kepada semua manusia yang beriman kepada Allah, diperintahkanNya untuk datang berhaji ke tempat suci itu setiap tahun. Tetapi kerana kemudian, oleh bangsa Israel tempat itu dijadikan tempat menyimpang dari ajaran Allah, maka kepada Nabi Muhammad diperintahkanNya untuk memindahkan tempat suci itu ke Mekah.

Baru saja Nabi Sulaiman a.s. selesai mengerjakan Rumah Suci itu, beliau mula berangkat meninggalkan tempat itu memenuhi nazarnya sebelum mendirikan Rumah Suci itu. Nazar (janji) akan mengembara di sekitar muka bumi untuk melihat dan mengetahui kebesaran Allah yang mencipta bumi ini juga maksudnya.

Mula mula Nabi Sulaiman a.s. menuju ke tanah Yaman, lalu memasuki daerah Sana’. Di daerah ini beliau mengalami kekurangan air. Ke mana juga dicarinya, tidak ada air dijumpai. Ke puncak bukit yang tinggi, di bawah jurang yang dalam, kadang kadang digalinya berupakan sumur yang dalam, namun air tidak ditemuinya. Di saat hampir menemui jalan buntu untuk mendapatkan air, tiba-tiba lalulah terbang melintas di atas kepalanya seekor burung Hud Hud. Burung itu segera dipanggil oleh Nabi Sulaiman a.s. dan kepada burung itu diperintahkannya untuk mencari tempat yang ada airnya dan menunjukkan jalan kepadanya menuju ke tempat itu.

Kerana burung Hud Hud yang diutus itu lama tidak kembali, maka Nabi Sulaiman a.s. menjadi marah dan mengucapkan sumpahnya.

[Surah An Naml : Ayat 20-21]
Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

Baru saja Nabi Sulaiman a.s. mengucapkan sumpahnya, burung Hud Hud yang ditunggu-tunggunya itupun datanglah dengan merendahkan kepala dan menggerak-gerakkan ekornya, tanda minta maaf dan minta ampun kepada Nabi Sulaiman a.s. atas kelewatannya itu.

Akhirnya Hud Hud bercerita kepadanya.

[Surah An-Naml : Ayat 22-26]
Maka tidak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini,

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar.

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arasy yang besar.”

Nabi Sulaiman a.s. sungguh terkejut mendengar berita ini, tetapi beliau tidak mahu mengejutkan Hud Hud yang telah bercerita itu.

[Surah An-Naml : Ayat 27-28]
Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu(hud-hud) benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

Pergilah dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

Surat itu segera diambilnya dari tangan Nabi Sulaiman a.s., lalu burung itu terbang melayang, menyampaikan surat itu ke alamat yang sudah ditentukan, iaitu kepada Ratu Balqis di negeri Saba. Hud Hud terbang menyusup ke atas mahligai istana Ratu Balqis.

Dengan melalui sebuah jendela, surat itu dijatuhkannya dalam istana itu tepat di hadapan Ratu Balqis sendiri. Surat tersebut jatuh, lalu diambil dan dibaca oleh Ratu Balqis.

[Surah An-Naml : Ayat 29-31]
Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Bahawa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Baru saja melihat dan membaca surat yang ajaib serta isinya yang mengejutkan itu, Ratu Balqis segera mengumpulkan semua menteri kerajaan, pembesar-pembesar dan ahli-ahli cerdik pandai, untuk bermesyuarat, guna meminta pertimbangan mereka tentang isi surat yang baru di terimanya itu.

[Surah An-Naml : Ayat 32-35]
Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku ini aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majlisku.”

Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat dalam peperangan, dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”

Dia (Balqis) berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, nescaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

Khabar ini sebagai jawapan terhadap surat Nabi Sulaiman a.s. itu,dituliskan dalam sebuah surat, lalu diserahkan kepada burungHud Hud itu, untuk disampaikan kepada Nabi Sulaiman a.s..

Untuk menyambut kedatangan delegasi Ratu Balqis itu, Nabi Sulaiman a.s. mengadakan persiapan seperlunya. Nabi Sulaiman a.s. ingin memperlihatkan kegagahan dan keluarbiasaannya. Semua jin dipanggilnya dan diperintahkan untuk mendirikan sebuah istana dari segala macam batu dan perhiasan yang berada di perut bumi di dalam laut. Dalam waktu yang singkat saja, gedung besar, iaitu istana yang terindah yang belum pernah ada tandingannya di muka bumi Allah ini, sekarang menjelma. Dindingnya terbuat dari kaca yang beraneka warna, lantainya daripada emas dan perak, serta pasirnya dari intan dan berlian dan berbagai-bagai batu berharga lainnya. Semua itu dikemukakan dan didirikan oleh segala jin dengan petunjuk Nabi Sulaiman a.s. sendiri.

Delegasi yang ditunggu tunggu itupun datanglah. Kedatangan mereka disambut dengan sambutan yang hormat dan meriah. Alangkah terkejut dan kagumnya mereka melihat kemewahan yang tidak dapat dibayangkan dengan kata-kata itu. Dengan rasa malu, mereka menyerahkan hadiah besar yang dianugerahkan Ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman a.s..

[Surah An-Naml : Ayat 36-37]
Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah patut kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikanNya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina-dina.”

Delegasi itupun segera kembali mendapatkan Ratu Balqis dan bangsanya, lalu disampaikannya hasil pertemuan dengan Nabi Sulaiman a.s. itu. Mendengar semua itu, dengan perasaan yang tenang, Ratu Balqis berkata: Tidak ada daya dan usaha lain lagi, kecuali kita hanya tunduk dan taat menurut ajaran Sulaiman itu.

Ratu Balqis ingin menghadap sendiri kepada Nabi Sulaiman a.s., serta ia bermaksud akan mengucapkan kalimat iman di hadapan Nabi Sulaiman a.s.. Ratu itupun berangkatlah diiringkan oleh semua pengiring dan pengawalnya. Setelah Nabi Sulaiman a.s. mengetahui akan keberangkatannya itu, maka beliau berkata kepada semua jin.

[Surah An-Naml : Ayat 38-41]
Berkata Sulaiman:”Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”

Berkata ‘Ifrit yang cerdik dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum  kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencuba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmatNya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Dia (Sulaiman) berkata: “Rubahlah baginya singgahsananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya.”

Akhirnya Ratu Balqis pun datanglah.

[Surah An-Naml : Ayat 42-43]
Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya:”Serupa inikah singgahsanamu?” Dia (Balqis) menjawab: “Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya untuk melahirkan keislamannya, kerana sesungguhnya dia (Balqis) dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Dalam pada itu Nabi Sulaiman a.s. sudah memerintahkan pula untuk membangun sebuah mahligai yang terbuat dari kaca yang putih bersih.

[Surah An-Naml : Ayat 44]
Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

11 June 2011

...sesuatu bermuLa denGan niat...


niat yang ikhlas semata-mata kerana Allah...insyaAllah :)

ayuh kita ambil pengajaran dari kisah Qabil dan Habil...
----------------------------------------------------------------------------------

Menurut sesetengah ulama, Nabi Adam dan isterinya Hawa dikurniakan Allah dengan anak ramai. Dikatakan mereka mempunyai 120 orang putera puteri. Setiap kali Siti Hawa melahirkan anak pasti akan dikurniakan anak kembar iaitu seorang lelaki dan seorang perempuan. 

Menurut peraturan dan syariat Nabi Adam seperti yang dikehendaki Allah, putera puterinya akan dijodohkan  antara satu sama lain.

Kembar pertama yang dilahirkan oleh Siti Hawa ialah Qabil dan Iklima. Kembar keduanya ialah Habil dan Labuda.

 Adik Qabil iaitu Iklima mempunyai rupa paras yang cantik jelita. Namun, Labuda tidak mempunyai rupa paras yang cantik seperti kakaknya.

Setelah putera puteri baginda meningkat dewasa, Nabi Adam mendapat satu wahyu yang sangat penting dari Allah. Menurut wahyu tersebut Allah memerintahkan Nabi Adam menjodohkan putera puterinya secara berselang-seli. Ini bermakna Qabil mestilah berkahwin dengan Labuda dan Habil pula berkahwin dengan Iklima. 

Setelah menerima wahyu itu Nabi Adam segera memberitahu putera puterinya. Namun puteranya Qabil tidak bersetuju dan terus membantah seraya berkata: 
Ayah! Aku tidak bersetuju dengan keputusan ayah. Akulah yang berhak berkahwin dengan Iklima kerana dia lahir bersama-sama denganku.”

Qabil membantah kerana cemburu terhadap adiknya, Habil. Setelah abangnya diam, Habil pula berkata:
“Ayah, aku serahkan perkara ini kepada Allah jika demikian perintah Allah.” 

Kata-kata Habil ini membuatkan abangnya itu bertambah marah.

Nabi Adam diam mendengarkan kata anaknya itu. Tapi Qabil terus membantah sambil berkata:
Tidak ayah..Aku tetap tidak bersetuju…Kalau ayah meneruskan juga bererti ayah mengasihi Habil dan membenciku.”

Nabi Adam merasa serba salah dalam menghadapi masalah menjodohkan anaknya. 

Setelah berfikir panjang, Nabi Adam pun memberi cadangan:
“Wahai putera-puteraku..Kamu berdualah pergi minta keputusan dari Allah dengan membawa korbanmu masing-masing. Barangsiapa korbannya diterima Allah, maka dialah yang benar.”

Pada keesokan harinya kedua-dua putera Nabi Adam itu segera pergi ke tempat yang Nabi Adam sering sujud kepada Allah. Qabil membawa  sehidang buah-buahan dan tanam-tanamannya yang rosak dan busuk sesuai pekerjaannya sebagai seorang petani. Maka Habil pula membawa seekor kambing yang paling disayanginya sesuai pekerjaannya sebagai pengembala. Kedua-duanya meletakkan korban masing-masing di tempat yang disediakan.

Tidak lama kemudian, turunlah api tanpa asap menyambar korban yang dipersembahkan oleh Habil. Korban Qabil langsung tidak terusik dan berada di tempatnya. Ini bererti korban Habil diterima dan Habillah yang benar dan dialah yang patut  berkahwin dengan Iklima.

Keputusan dari Allah ini tidak juga membuat Qabil berasa puas malah dia semakin geram dan dendam terhadap adiknya.

Di saat inilah Iblis mula menusukkan jarumnya. Iblis mula menghasut Qabil agar membunuh Habil dan menghapuskannya terus dari muka bumi ini.

Dengan  keputusan dari langit yang menerima korban Habil dan menolak korban Qabil maka pudarlah harapan Qabil untuk mempersandingkan Iqlima tidak puas dengan keputusan itu namun tidak ada jalan untuk menyoalkan. Ia menyerah dan memerainya dengan rasa kesal dan marah sambil menaruh dendam terhadap Habil yang akan dibunuh di kala ketiadaan ayahnya.

Ketika Adam hendak berpergian dan meninggalkan rumah beliau mengamanahkan rumahtangga dan keluarga kepada Qabil. Ia berpesan kepadanya agar menjaga baik-baik ibu dan saudara-saudaranya selama ketiadaannya. Ia berpesan pula agar kerukunan keluarga dan ketenangan rumahtangga terpelihara baik-baik jangan sampai terjadi hal-hal yang mengeruhkan suasana atau merosakkan hubungan kekeluargaan yang sudah akrab dan intim.

Qabil menerima pesanan dan amanat ayahnya dengan kesanggupan akan berusaha sekuat tenaga menyelenggarakan amanat ayahnya dengan sebaik-baiknya dan sempurna berpergiannya akan mendapat segala sesuatu dalam keadaan baik dan menyenangkan.

Demikianlah kata-kata dan janji yang keluar dari mulut Qabil namun dalam hatinya ia berkata bahawa ia telah diberi kesempatan yang baik untuk melaksanakan niat jahatnya dan melepaskan rasa dendamnya dan dengkinya terhadap Habil saudaranya.

Tidak lama setelah Adam meninggalkan keluarganya datanglah Qabil menemui Habil di tempat penternakannya. 

Surah Al-Maidah: Ayat 27-29
"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertakwa."


"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."


"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.""

Nasihat dan kata-kata mutiara Habil itu didengar oleh Qabil namun masuk telinga kanan keluar telinga kiri dan sekali-kali tidak sampai menyentuh lubuk hatinya yang penuh rasa dengki, dendam dan iri hati sehingga tidak ada tempat lagi bagi rasa damai, cinta dan kasih sayang kepada saudara sekandungnya. 

Qabil yang dikendalikan oleh Iblis tidak diberinya kesempatan untuk menoleh ke belakang mempertimbangkan kembali tindakan jahat yang dirancangkan terhadap saudaranya, bahkan bila api dendam dan dengki di dalam dadanya mulai akan padam dikipasinya kembali oleh Iblis agar tetap menyala-yala dan ketika Qabil bingung tidak tahu bagaimana ia harus membunuh Habil saudaranya, menjelmalah Iblis dengan seekor burung yang dipukul kepalanya dengan batu sampai mati. Contoh yang diberikan oleh Iblis itu diterapkannya atas diri Habil di kala ia tidur dengan nyenyaknya dan jatuhlah Habil sebagai korban keganasan saudara kandungnya sendiri dan sebagai korban pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Surah Al-Maidah: Ayat 30
"Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi."

Qabil merasa gelisah dan bingung menghadapi mayat saudaranya. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan tubuh saudaranya yang semakin lama semakin busuk itu. Diletakkannyalah tubuh itu di sebuah peti yang dipikulnya seraya mundar-mundir oleh Qabil dalam keadaan sedih melihat burung-burung sedang berterbangan hendak menyerbu tubuh jenazah Habil yang sudah busuk itu.

Kebingungan dan kesedihan Qabil tidak berlangsung lama kerana ditolong oleh suatu contoh yang diberikan oleh Tuhan kepadanya sebagaimana ia harus menguburkan jenazah saudaranya itu. Allah s.w.t. Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana, tidak rela melihat mayat hamba-Nya yang soleh dan tidak berdosa itu tersia-sia demikian rupa, maka dipertunjukkanlah kepada Qabil, bagaimana seekor burung gagak menggali tanah dengan kaki dan paruhnya, lalu menyodokkan gagak lain yang sudah mati dalam pertarungan, ke dalam lubang yang telah digalinya, dan menutupi kembali dengan tanah. 

Surah Al-Maidah: Ayat 31
"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Kerana itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal."

Kemudian kembalilah Adam dari perjalanan jauhnya. Ia tidak melihat Habil di antara putera-puterinya yang sedang berkumpul. Bertanyalah ia kepada Qabil: 
"Di manakah Habil berada?Aku tidak melihatnya sejak aku pulang."

Qabil menjawab:
"Entah, aku tidak tahu dia ke mana! Aku bukan hamba Habil yang harus mengikutinya ke mana saja ia pergi."

Melihat sikap yang angkuh dan jawapan yang kasar dari Qabil, Adam dapat meneka bahawa telah terjadi sesuatu ke atas diri Habil, puteranya yang soleh, bertakwa dan berbakti terhadap kedua orang tuanya itu.

Pada akhirnya terbukti bahawa Habil telah mati dibunuh oleh Qabil sewaktu peninggalannya. Ia sangat sesal di atas perbuatan Qabil yang kejam dan ganas itu di mana rasa persaudaraan, ikatan darah dan hubungan keluarga diketepikan sekadar untuk memenuhi hawa nafsu dan bisikan yang menyesatkan.

Menghadapi musibah itu, Nabi Adam hanya berpasrah kepada Allah menerimanya sebagai takdir dan kehendak-Nya seraya mohon dikurniai kesabaran dan keteguhan iman baginya dan kesedaran bertaubat dan beristighfar bagi puteranya Qabil.

09 June 2011

...sabar daLam menuntut iLmu...

sama-samalah kita mengambil pelajaran berdasarkan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir...
----------------------------------------------------------------
Nabi Musa a.s. diperintah Allah untuk bertemu Nabi Khidir a.s.

Ketika Nabi Musa a.s. di atas perintah Allah berkhutbah dihadapan 12 suku Bani Israil sebagaimana tertulis di dalam Al-Quran, melalui Surah Al-Baqarah: Ayat 47

"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan ingatlah pula bahawasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat."


Di tengah-tengah khutbahnya, ada salah seorang yang bertanya kepada Nabi Musa a.s. : " WAHAI NABI MUSA, SIAPAKAH ORANGNYA YANG PALING PANDAI SEKARANG INI?"

Nabi Musa a.s. menjawab," AKULAH ORANG PALING PANDAI DI ATAS BUMI INI."

Dengan pernyataan Nabi Musa inilah, Allah Maha Mendengar siapa yang berkata baik dizahir maupun di dalam hatinya.

Allah langsung menegur Nabi Musa a.s. 



Dengan firmanNya," MUSA, ANAA LI ABDAANI HUWA A'LAMU MINKA…"
ertinya :"Wahai Musa, Aku mempunyai hamba yang lebih pandai dari kamu…"

Seperti dipanah petir di siang hari Nabi Musa mendapat teguran Allah, dan dengan tunduk berkata," Di manakah kami dapat bertemu hambaMu yang lebih pandai dari aku?".

Kemudian Allah menjawab," HambaKu bisa ditemui di suatu tempat yang disebut MAJMA'AL BAHROIN".



Dari sinilah awal pencarian Nabi Musa a.s. untuk bertemu hamba Allah yang lebih pandai daripadanya yang kita kenal dengan nama Nabi Khidir.

Kisah Nabi Musa a.s. berguru kepada Nabi Khidir a.s.

Surah Al-Kahfi: Ayat 54

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."

Nabi Musa a.s. bertanya kepada Tuhannya,"Ya Rabbii, kaifa lii bihii?"
Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya aku menemui hambaMu yang lebih pandai dari aku itu…?.

Tuhan pun menjawab," Apabila kamu ingin bertemu hambaKu yang lebih pandai dari kamu maka dia tempatnya ada di Majma'al Bahroin itu adapun caranya yaitu kamu harus pergi ke sana, tetapi bawalah ikan yang telah mati (ikan laut) dan ikan itu kamu tempatkan dalam kepis (tempat ikan) dan jika sampai pada suatu tempat ikan tersebut menghilang dari tempatnya kerana hidup kembali, maka di situlah tempatnya hambaKu yang lebih pandai dari kamu."

Kemudian Nabi Musa melakukan persiapan untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia ketahui yang namanya adalah Majma'al Bahroin. Nabi Musa pun pergi ke pasar untuk membeli ikan laut yang akan dijadikan bekal dan petunjuk di mana tempatnya hamba Allah yang lebih pandai darinya. Setelah mendapatkan ikan dan bekal yang cukup maka Nabi Musa a.s. berangkat bersama seorang muridnya yang bernama Yusya. Yusya ditugaskan membawa bekal-bekal untuk perjalanan termasuk ikan yang ada dalam kepis.



Surah Al-Kahfi: Ayat 60
"Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya:"Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.""

Dari ayat itu Nabi Musa a.s. dan Yusya bertekad untuk berjalan meskipun bertahun-tahun melalui pantai.

Dekat pertemuan dua lautan itu ada sebuah batu besar "Shokhro" (kalau batu kecil Hasho, batu sedang Hajarun). Di situ ada sumber air "MAUL HAYAT" - Air yang bila mengenai sesuatu yang telah mati bisa hidup kembali. Inilah perjanjian yang mesti dipegang oleh Nabi Musa a.s. Pesan Allah jika sampai ditempat air yang bila mengenai ikan yang akan dijadikan lauk dan boleh hidup lalu berenang ke laut itulah tandanya Majma'al Bahroin sudah dekat.

Sejak pagi kedua anak manusia itu berjalan tiada hentinya, dibawah terik matahari pun terus dijalaninya demi suatu ketinggian di sisi Allah.

Nabi Musa a.s. pun beristirahat di balik bayangan batu besar Shokhro, dan terlelap tidur. Sedang pemuda Yusya tidak tertidur, ia menjaga Nabi Musa a.s. yang terlelap keletihan keduanya lupa makan bekal yang telah disiapkan. Pada saat Nabi Musa tertidur,Yusya mengalami kejadian ajaib. Ikan yang akan dijadikan lauk itu melompat ke air dan hidup lalu berenang ke tengah lautan.Yusha terpinga-pinga dengan kejadian ini.Yusha pun terlupa untuk menceritakan kejadian aneh ini kepada Nabi Musa a.s., sehingga keduanya terus berjalan kembali sampai jauh. Sampai suatu ketika Nabi Musa a.s teringat akan bekalan makanannya untuk dimakan maka dimintanya bekal yang dibawa olehYusya. Dan Yusya pun menceritakan tentang ikan yang secara aneh melompat ke laut dan berenang, sebagaimana dikhabarkan Allah dalam Al-Quran,



Surah Al-Kahfi: Ayat 61-64
"Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.


Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya:"Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini."

Muridnya menjawab,"Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."


Musa berkata," Itulah tempat yang kita cari". Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula."



Pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Nabi Khidir a.s.

Surah Al-Kahfi: Ayat 65

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."

Setelah Nabi Musa a.s. bersama Yusya berjalan menyusuri tapak kaki mereka akhirnya sampai kembali ke tempat batu besar Shokhro yang di dekatnya ada sumber air kehidupan (Maul Hayat) dan di dekat batu itu telah ada seorang hamba Allah yang dijanjikan bertemu dengan Nabi Musa a.s.


Padahal pada kali yang pertama datang d itempat itu bahkan sampai tertidur lama di tempat itu tidak melihat hamba Allah tersebut.

Orang itu adalah Bunya putra Malkan bin Amir. Amir putera dari Sholikh putera Arfakhsyad putera dari Syam bin Nabi Nuh a.s.. Bunya bin Malkan ini pada akhirnya dikenal oleh kita namanya Nabi Khidir, meskipun Al-Quran hanya menyebut secara umum " HambaKU diantara hambaKu yang telah mendapat RAHMAT khusus dan diajari Ilmu Allah langsung."

Setelah Nabi Musa a.s. bertemu dengan Bunya maka Nabi Musa menyampaikan salam,Nabi Musa berkata," Saya ini Musa". Bunya kembali menegaskan," Apakah kau Musa bani Israil…?" Musa jawab," Ya, saya Musa bani Israil…" Bunya bertanya lagi," Musa ?, Bukankah kamu itu orang yang di Bani Israil orang sangat sibuk mengurus umat yang begitu banyak ? mengapa sampai disini ?"


Musa menjawab,"Wahai hamba Allah, memang aku datang ke tempat kamu ini diperintah Tuhanku untuk menemui kamu. Kerana sesungguhnya Tuhanku menyuruh aku belajar Ilmu daripada kamu".

Setelah Musa berkata begitu, ada seekor burung menyahut air di lautan, lalu air itu menitis di hadapan Nabi Musa dan Bunya. Dan Bunya pun berkata, " Musa,…ilmu saya dan ilmu kamu serta ilmu seluruh manusia di bumi ini dari awal sampai akhir itu hanyalah seperti setitis air yang jatuh di hadapan kita dari burung tadi dibanding dengan air lautan yang terbentang di muka bumi ini. Dan kamu Musa bukankah pernah berkata bahwa INNAKA A'LAMU AHLAL ARDLI "Aku ini lebih pandai dari semua manusia di bumi.""


Mendengar perkataan yang tajam seperti di atas Nabi Musa a.s terdiam saja, karena dalam hatinya mengiyakan bahawa dirinya pernah berkata begitu,yang dengan itulah membuat Allah menyuruhnya belajar kepada Bunya di tempat ini.

Setelah Nabi Musa merasa yakin dengan orang yang ada dihadapannya adalah orang di maksud oleh Tuhannya maka Nabi Musa pun memohon keredhaan kepada Bunya untuk berguru kepadanya.



Surah Al-Kahfi: Ayat 66-69

"Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"

Dia menjawab:"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"

Musa berkata:"InsyaAllah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.""


Kemudian Nabi Musa bertanya, " Kalau aku sanggup mengikuti kamu, apakah persyaratannya ?"


Surah Al-Kahfi: Ayat 70
"Dia (Khidir) berkata:"Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.""


Perjalanan Nabi Musa bersama Hamba Allah yang bergelar Khidir

Maka setelah Nabi Musa sepakat dengan Bunya kedua-duanya pun berjalan menuju ke tepi laut. Sedang Yusya tidak ikut bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s..

Nabi Khidir membocorkan perahu

Keduanya naik kedalam perahu, yang kebetulan waktu itu ada perahu yang baru dan kuat sedang lewat, menyeberangkan orang-orang antara Lautan Asin ke Lautan Tawar, antara Lautan Persia ke Lautan Romawi. Rupanya pengemudi/nakhoda perahu itu mengetahui bahawa terlihat olehnya kedua orang Musa dan Bunya adalah orang-orang bijaksana, maka tidak perlu membayar wang perahu. Ketika kedua orang itu dipersilakan masuk dan duduk kemudian di hdalam perahu Bunya berkata kepada Musa dengan perkataannya, " Musa apakah kamu mau saya beritahu cerita tentang kata-kata hati kamu sekarang?" Musa menjawab, "Ya…" Kemudian Bunya alias Nabi Khidir berkata,"Hati kamu itu menggerutu dengan berkata,' Bahawa saya di Bani Israil tidak seperti ini, saya setiap hari pagi siang dan petang menghadapi ummatku dan saya diikuti,ditaati mereka. Setiap hari saya membaca kitab Taurat." Kemudian Nabi Musa berkata, " Ya, itulah apa yang saya katakan dalam hatiku". Demikian Nabi Khidir dianugerahi Allah boleh membaca/mendengar pembicaraan hati orang lain. 

Di tengah-tengah pelayaran naik perahu tanpa bayaran itu Nabi Khidir a.s. mengambil kapak dan papan kayu perahu dikapak sehingga airnya masuk ke dalam perahu.

Mengetahui hal itu Nabi Musa a.s. kehairanan  sekali dan berkata dalam hatinya, "Naik perahu sudah tidak membayar, mestinya bersyukur malah tangannya dibuat merusak perahu. Kalau perahu ini jadi satu-satu nya sumber pencaharian sipemiliknya kan jadi menyusahkan dan orang-orang yang dalam perahu itu bisa tenggelam semua. 



Surah Al-Kahfi: Ayat 71-73

"Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubanginya. Musa berkata:"Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar."

Dia (Khidir) berkata:"Bukankah aku telah berkata:"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku?""

Musa berkata:"Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.""


Perbuatan ganjil kedua yang dilihat Nabi Musa a.s.


Dan permohonan Nabi Musa a.s pun dikabulkan atas pelanggaran persyaratan utama jika seseorang hendak belajar Ilmu khusus, yakni mesti bersabar untuk tidak bertanya jika mendapati sesuatu yang di luar hukum biasa.

Setelah turun dari kapal, Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s keduanya berjalan sampai pada suatu kampung namanya AILAH,lalu dikampung itu Nabi Khidir a.s. dan Nabi Musa a.s. bertemu dengan seorang anak laki-laki kecil yang sedang bermain. Anak laki-laki kecil ini sedang bermain dengan 10 anak lainnya.


Di antara sepuluh anak itu ada seorang anak laki-laki yang kacak rupawan yang namanya diketahui adalah "KHASNUD" bapaknya bernama MALASUN dan ibunya bernama RAHMATUN. Anak kecil itu ketika sedang bermain dipegang dan dibunuhnya oleh Nabi Khidir a.s..

Nabi Musa a.s., yang telah faham hukum syariat/lahir pun sangat terkejut dan menahan diri untuk bertanya dengan lisannya dan berkata dalam hatinya, " Anak kecil yang belum punya dosa, belum baligh dibunuh?".

Begitulah di dalam batin Nabi Musa a.s. terjadi pertentangan hebat dengan apa yang selama ini dia ketahui, akhirnya Nabi Musa pun tidak bisa menahan suara batinnya. 



Surah Al-Kahfi: Ayat 74-75

"Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata:"Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar."

Khidir berkata:"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahawa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?""


Demikian Nabi Musa baru tersedar bahawa ia telah melanggar aturan belajar Ilmu Khusus.


Surah Al-Kahfi: Ayat 76
"Musa berkata:"Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.""


Dan Nabi Khidir masih memaafkan Nabi Musa dan memberikan kesempatan satu kali lagi sesuai permintaan Nabi Musa a.s..

Dan perjalananpun dilanjutkan ke kampung yang lain. Nabi Musa a.s. terus mengingat-ingat akan persyaratan belajar Ilmu pada Nabi Khidir a.s. dan dia tinggal punya satu kesempatan lagi.



Nabi Khidir menegakkan tembok yang hampir roboh

Kejadian ketiga ini dikisahkan setelah kedua hamba Allah itu berjalan sampai suatu kota yang diketahui bernama INTIQOYAH(dalam Qur'an disebut ATAYAA)

Ketika memasuki kota Intiqoyah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. mendapati warga kota sedang menghidangkan makanan kepada para keluarganya. Padahal Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. habis berjalan jauh seharian dalam kondisi letih, lesu dan lapar dan lagi bekalan makanan telah habis selama perjalanan sebelumnya. Lalu Nabi Khidir mengajak Nabi Musa a.s. bertamu dan ternyata tak ada satupun warga kota yang menerimanya, ditolak. Tak ada warga kota yang mau ditamui.

Akhirnya kedua hamba Allah itu berjalan terus dari rumah ke rumah dan sampailah keduanya bertambah letih dan lesu maka keduanya istirahat di bawah bayangan tembok suatu rumah, di mana tinggi tembok itu 30 dziya' dan panjangnya 500 dziya' kondisinya sudah akan roboh.


Lalu Nabi Khidir a.s. mengajak Nabi Musa a.s. untuk menegakkan tembok yang akan roboh tersebut. Ketika Nabi Khidir a.s. mengajak Nabi Musa a.s. untuk menegakkan tembok itu, Nabi Musa berkata, " Semua warga kota ini menolak ditamui dan tidak memberi makanan pada kita, tidak berperikemanusiaan, tetapi mengapa temboknya orang-orang yang demikian akan ditegakkan pada kita dalam kondisi haus, lapar dan sangat letih. Kalau menegakkan dan diberi upah tidak apa-apa,bisa untuk menghilangkan lapar dan haus. Mestinya orang-orang warga kota yang seperti itu tidak perlu kita berbuat baik pada mereka,apa perlunya menegakkan tembok, sedang orang-orangnya sangat tega terhadap kita".




Surah Al-Kahfi: Ayat 77
"Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah  yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata:"Jikalau kamu mau, nescaya kamu mengambil upah untuk itu.""

Mendengar perkataan Nabi Musa a.s. yang demikian Nabi Khidir tetap bekerja di atas rasa haus yang sangat dan lapar yang sangat lapar pula.



Nabi Khidir mengungkap rahsia di sebalik 3 peristiwa



Surah Al-Kahfi: Ayat 78
"Khidir berkata:"Inilah perpisahan antara aku dengan kamu;Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Demikian pula Nabi Musa a.s. sangat sedar atas kesalahannya itu yang telah tanpa disedari berlaku tiga kali. Nabi Musa a.s. sangat cukup mendapat pelajaran dari perjalanan ini.

Kemudian Nabi Khidir a.s, mengungkapkan rahsia yang terkandung dalam peristiwa yang telah terjadi itu.


Surah Al-Kahfi: Ayat 79
"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merosakkan bahtera itu, kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera."


Sesungguhnya bahtera yang dirosak Nabi Khidir a.s. itu bukanlah kepunyaan orang satu, melainkan milik orang-orang miskin yang lebih dari satu yaitu 10 orang. Dan perahu itu merupakan warisan dari orang tuanya serta hanya itu kepunyaan satu-satunya sebagai sumber mata pencarian 10 orang bersaudara, yaitu hasil menyeberangkan orang dengan perahu itu. Adapun dari sepuluh orang bersaudara yang dapat bekerja hanya lima orang, dan yang lima orang lagi tidak dapat bekerja,sebab yang lima orang itu dalam keadaan cacat anggota.


Rahsia di sebalik periatiwa Nabi Khidir membunuh seorang anak


Surah Al-Kahfi: Ayat 80
"Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khuatir bahawa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran."

Anak muda yang dibunuh Nabi Khidir As atas perintah Tuhan (yang ia terima secara ghaib) adalah KHASNUD. Kampung di mana Nabi Khidir membunuh seorang anak muda adalah Kampung AILAH. Adapun nama bapanya anak itu adalah MALASUN dan ibunya bernama ROHMAH.


Bapanya seorang yang soleh dan ibunya juga seorang yang Solehah. Anak muda itu pekerjaan setiap malamnya adalah mencuri. Dan ketika hari telah pagi ditanya bapa atau ibunya ia menjawab," Sesungguhnya setiap malam saya ada di sini, bapak,ibu." Anak muda itu mengaku tidak mencuri atau tidak keluar rumah. Namun orang tuanya tersebut sangat sayang kepada anak muda tersebut.



Dan Nabi Khidir melalui ilmunya mengetahui bahawa anak tersebut nantinya akan menjadi kafir, yang menyeret kedua orang tuanya yang soleh kepada kekafiran." Itulah sebabnya anak itu saya bunuh" Kata Nabi Khidir kepada Nabi Musa.


Untuk membuktikan kepada Nabi Musa a.s., kemudian tulangnya anak tersebut diambil dan dipatahkan oleh Nabi Khidir a.s., lalu disuruh Nabi Musa a.s. untuk membaca tulisan yang ada di tulang itu. Dan oleh Nabi Musa a.s. terbaca apa tulisan yang ada di tulang anak itu yaitu, " KAFARO" (kafir). Anak tersebut nanti kalau dewasa sampai wafatnya akan kafir dan menyeret orang tuanya kepada kekafiran, sebab sangat cintanya kepada anaknya. Maka dari itulah Nabi Khidir a.s. membunuh anak itu agar tidak banyak menyeret kedua orang tuanya berbuat kekafiran dan kemusyrikan.


Surah Al-Kahfi: Ayat 81
"Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapanya."


Khidir a.s. mengungkapkan rahsia menegakkan tembok


Surah Al-Kahfi: Ayat 82
"Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemahuanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.""


Sebagaimana keterangan terdahulu, di kota Intiqoyah itu ada orang soleh (Ahli Ibadah kepada Allah SWT),namanya KASIKHUN, mempunyai dua orang anak. Anak pertama namanya ASROM dan anak kedua namanya SHORIM. Sewaktu kecil sudah ditinggal wafat kedua orang tuanya, sehingga kedua anak itu menjadi yatim. Dan Kasikhun itu mempunyai peninggalan emas yang dipendam dibawah tembok rumah, dengan harapan ada yang diberi tanggungjawab untuk mengurus harta itu, dengan maksud dari Kasikhun agar anaknya kelak setelah besar simpanan emas itu menjadi penghidupannya, ini dilakukan menjelang maut. Dan orang diberi tanggungjawab adalah orang yang dapat dipercaya. Sedangkan saudara-saudara bapanya itu ada tujuh orang. Lama-kelamaan tembok rumah itu jadi akan roboh, padahal ASROM dan SHORIM masih kecil, maka emasnya akan terlihat dan dijadikan rebutan orang-orang Intiqoyah.


Dari dasar inilah adanya Nabi Khidir membangun kembali tembok yang sudah hampir roboh dan di bawahnya ada harta/emas anak yatim.

08 June 2011

...cerita peLanGi hati...



specialovely dedicated to my gedik kazen...hepi pelangi :) :) :)

[19:96] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.

[15:22] Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan tumbuh-tumbuhan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

Semalam yang telah pergi
Menghilang tanpa jejak
Membawa bersama cereka
Duka dan ketawa

Dan kini ku mencari
Kalau masih ada kesan
Yang terus tersisa di dada
Pantai permainan

Jalanan yang panjang
Bersimpang haluan
Bagai pentas luahan rasa
Tiada sempadan

Pada awan biru ku melakar kata-kata
Pada langit cerah ku panah semua cerita
Dengarlah mentari suara hatiku menyanyi
Berterbangan jiwa merentasi pelangi

Mungkin ada esok 'tuk ku ukirkan kalimah
Menjadi arca pembuktian
Pengabdian cinta

Pada awan biru ku melakar kata-kata
Pada langit cerah ku panah semua cerita
Dengarlah mentari suara hatiku menyanyi
Berterbangan jiwa merentasi pelangi

Gerimis menitis gugur membasahi bumi
Bagai menangisi sebuah cerita hati
Andai kau fahami semua hikayat pendeta
Seribu tahun kau pasti bisa setia ke alam syurga

21 May 2011

...Al Asmaaul Husna...

"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
[Surah Al-'Araf : Ayat 180]

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.""
[Surah Al-Isra' : Ayat 110]

"Dialah Allah. tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik)."
[Surah Toha : Ayat 8]

"Dialah Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Mha Penyayang.


Dialah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang mengurniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.


Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
[Surah Al-Hasyr : Ayat 22-24]
-----------------------------------------------------------------
Daripada Abu Hurairah r.a., ia berkata, Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

Inna lillahi tis'atawwa tis'iina isman mi aa ta illa wahida, Man ahsoha daholal Jannah

Maksudnya: Sesungguhnya Allah s.w.t. mempunyai 99 nama, iaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafaz seluruhnya) masuklah ia ke dalam Syurga.
[Hadis Riwayat Bukhari]
---------------------------------------------------------------

1. ALLAH : Yang mengeluarkan sekalian makhluk dari tiada kepada ada

2. AR-RAHMAN : Maha Pemurah

3. AR-RAHIM : Maha Penyayang

4. AL-MALIK : Yang Mempunyai Kerajaan

5. AL-QUDDUS : Yang Maha Suci

6. AS-SALAM : Maha Menyelamatkan

7. AL-MUKMIN : Maha Pemelihara Keamanan

8. AL-MUHAIMIN : Maha Memelihara

9. AL-'AZIZ : Maha Mulia

10. AL-JABBAR : Maha Perkasa

11. AL-MUTAKABBIR : Maha Besar

12. AL-KHALIK : Maha Pencipta

13. AL-BAARI'U : Maha Pembuat

14. AL-MUSHAWWIR : Maha Pembentuk

15. AL-GHAFFAR : Maha Pengampun

16. AL-QAHHAR : Maha Menguasai

17. AL-WAHAB : Maha Pemberi

18. AR-RAZAK : Maha Pemberi Rezeki

19. AL-FATTAH : Maha Membukakan

20. AL-'ALIM : Maha Mengetahui

21. AL-QAABID : Maha Penggenggam

22. AL-BASIT : Maha Melapangkan

23. AL-KHAAFID : Maha Menjatuhkan

24. AR-RAAFI'U : Maha Meninggikan

25. AL-MU'IZZ : Maha Memuliakan

26. AL-MUZILL : Maha Menghinakan

27. AS-SAMII'U : Maha Mendengar

28. AL-BASIR : Maha Melihat

29. AL-HAKAM : Maha Menetapkan Hukum

30. AL-'ADL : Maha Adil

31. AL-LATIF : Maha Halus

32. AL-KHABIR : Maha Bijaksana

33. AL-HALIM : Maha Penyayang dan Penyabar

34. AL-'AZIM : Maha Agung

35. AL-GHAFUUR : Maha Pengampun

36. ASY-SYAKUR : Maha Mensyukuri

37. AL-'ALIYY : Maha Tinggi

38. AL-KABIR : Maha Besar

39. AL-HAFIZ : Maha Pemelihara

40. AL-MUQIT : Maha Mencukupkan

41. AL-HASIB : Maha Menghisab

42. AL-JALIL : Maha Luhur

43. AL-KARIM : Maha Pemurah

44. AR-RAQIB : Maha Mengamati/Mengawasi

45. AL-MAJIB : Maha Memperkenankan

46. AL-WAASI'U : Maha Luas

47. AL-HAKIM : Maha Bijaksana

48. AL-WADUD : Maha Mencintai

49. AL-MAJID : Maha Mulia

50. AL-BAA'ITS : Maha Membangkitkan

51. ASY-SYAHID : Maha Menyaksikan

52. AL-HAQQ : Maha Benar

53. AL-WAKIL : Maha Memelihara

54. AL-QAWIYY : Maha Kuat

55. AL-MATIN : Maha Teguh

56. AL-WALIYY : Maha Melindungi

57. AL-HAMID : Maha Terpuji

58. AL-MUHSHII : Maha Menghitung

59. AL-MUBDI'U : Maha Memulai

60. AL-MU'ID : Maha Mengulangi

61. AL-MUHYI : Maha Menghidupkan

62. AL-MUMIT : Maha Mematikan

63. AL-HAYYU : Maha Hidup

64. AL-QAYYUM : Maha Berdiri Sendiri

65. AL-WAJID : Maha Mendapatkan/Menemukan

66. AL-MAAJID : Maha Agung dan Mulia

67. AL-WAHID : Maha Esa

68. AS-SAMAD : Tempat Bergantung

69. AL-QAADIR : Maha Kuasa

70. AL-MUQTADIR : Maha Menentukan

71. AL-MUQADDIM : Zat Yang Mendahulukan

72. AL-MUAKHIR : Zat Yang Mengakhirkan

73. AL-AWWAL : Maha Awal

74. AL-AKHIR : Maha Penghabisan

75. AZ-ZAHIR : Zat Yang Maha Nyata

76. AL-BATIN : Zat Yang Maha Ghaib

77. AL-WAALIY : Maha Menguasai

78. AL-MUTA'AALI : Maha Tinggi

79. AL-BARR : Yang Maha Berbuat Baik

80. AT-TAWWAB : Maha Menerima Taubat

81. AL-MUNTAQIM : Maha Menyeksa

82. AL-'AFUWWU : Maha Pemberi Maaf

83. AR-RAUF : Maha Mengasihani

84. AL-MALIKUL MULK : Maha Menguasai Kerajaan

85. ZUL JALAALI WAL IKRAM : Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan

86. AL-MUQSIT : Maha Mengadili

87. AL-JAAMI'U : Yang Mengumpulkan

88. AL-GHANIYYU : Yang Maha Kaya

89: AL-MUGHNII : Zat Yang Memberi Kekayaan

90. AL-MAANI'U : Maha Menolak

91. AD-DHAAR : Maha Memudaratkan

92. AN-NAAFI'U : Maha Memberi Manfaat

93. AN-NUUR : Yang Menerangi

94. AL-HADI : Maha Pemberi Petunjuk

95. AL-BADII'U : Maha Pencipta Yang Baru

96. AL-BAAQI : Maha Kekal

97. AL-WARITS : Maha Mewarisi

98. AR-RASYID : Yang Memberi Petunjuk

99. AS-SOBUR : Maha Penyabar

10 May 2011

...hati tenang, ibadah berterusan...

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram."
[Surah Ar-Ra'd : Ayat 28]

"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha."
[Surah Al-Furqan : Ayat 47]

01 May 2011

...As-Sobur...

Wallahu yuhibbus soobiriina

Maksudnya: "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
[Surah Ali 'Imran: Ayat 146]
-----------------------------------------------------------------
Abud Darda' r.a. berkata:

"Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir, maka yang paling dicintaiNya adalah meredhai takdirNya."

...4 simpanan...

  • menyembunyikan MUSIBAH
  • menyembunyikan SEDEKAH
  • menyembunyikan KELEBIHAN
  • menyembunyikan SAKIT